Kehidupan

Me-Ramadhan-kan Diri

Ramadhan mungkin hanya sebulan. Tetapi latihan untuk menahan diri tidak harus selesai ketika bulan itu berakhir.

Catatan Rakan Kehidupan
Seseorang merenung dalam suasana Ramadhan menjelang waktu berbuka
Ramadhan mungkin hanya sebulan. Tetapi nilai yang dilatih di dalamnya dapat kita bawa sepanjang kehidupan.

Istilah me-Ramadhan-kan diri ini kudapat dari Emha Ainun Nadjib, atau yang akrab disapa Cak Nun. Tulisan ini pun terinspirasi dari beberapa petuah Cak Nun.

Lantas, apa itu me-Ramadhan-kan diri?

Sebelum menjawabnya, aku mau mengajakmu untuk mundur ke belakang.

Sebagai muslim, kita pasti bersepakat bahwa Ramadhan merupakan bulan yang istimewa bagi umat Islam.

Akan tetapi, apakah dengan mengatakan bahwa Ramadhan adalah bulan yang istimewa, lantas bulan di luar Ramadhan menjadi tidak istimewa?

Apakah bulan Muharram tidak istimewa?

Apakah bulan Rajab tidak istimewa?

Apakah bulan Rabi'ul Awal, bulan yang di dalamnya umat Islam memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW, tidak istimewa?

Sudah pasti kita tidak akan berani mengatakan bahwa bulan-bulan itu tidak memiliki keistimewaan.

Lagipula, untuk apa Tuhan menciptakan bulan yang tidak bernilai?

Hal yang sama bisa kita renungkan ketika berbicara tentang hari.

Kita sebagai muslim amat mengagungkan hari Jumat. Ia disebutSayyidul Ayyam, penghulu hari.

Lantas, apakah hari selain Jumat menjadi tidak agung?

Kamu boleh saja menjawab bahwa semua hari itu agung, tetapi Jumat memiliki keistimewaan tersendiri karena ia adalahSayyidul Ayyam.

Aku tidak sedang ingin mendebat semua gagasan itu. Terlebih jika ada teks-teks keagamaan yang menjelaskan keutamaan Ramadhan ataupun keutamaan hari Jumat.

Namun, bagiku, waktu hanyalah waktu.

Ia adalah sesuatu yang tidak bermuatan. Tidak positif dan tidak pula negatif.

Waktu menjadi positif ketika kita mengisinya dengan sesuatu yang positif. Begitu pula sebaliknya, waktu dapat menjadi buruk ketika kita mengisinya dengan sesuatu yang buruk.

Waktu menjadi bermakna melalui apa yang kita lakukan di dalamnya.

Soal Ramadhan yang sering dikaitkan dengan bulan suci, mungkin karena di dalamnya terdapat banyak kegiatan yang sarat nilai.

Puasa, misalnya, dapat melatih pola makan, kedisiplinan, keteraturan, dan kemampuan kita mengendalikan diri.

Itu kalau kita bicara tentang simbol dan kebiasaan.

Lebih dari itu, jika kita menelisik aspek ruhani, puasa mengajarkan kita kemampuan menahan sesuatu yang sebenarnya mampu kita lakukan.

Misalnya, kita sangat mampu meminum air pada siang hari. Tidak ada yang menghalangi tangan kita untuk mengambil segelas air.

Tetapi ketika berpuasa, kita bersepakat dengan Tuhan untuk tidak minum sebelum tiba waktu berbuka.

Bukan karena kita tidak mampu minum.

Justru karena kita mampu minum, tetapi kita memilih untuk menahannya.

Aku bisa, tetapi aku tidak melakukannya.

Soal hubungan suami istri pun demikian. Kita bisa saja merayu pasangan pada siang hari, tetapi ketika sedang berpuasa, kita bersepakat dengan Tuhan untuk menahan hubungan seksual sampai tiba waktu berbuka.

Latihan seperti ini memaksa kita untuk mengenal batas-batas diri.

Dari sini kita bisa melihat bahwa puasa bukan sekadar latihan untuk menahan lapar dan haus.

Ia adalah latihan untuk mengenali batas.

Kita belajar bahwa tidak semua yang bisa kita lakukan harus kita lakukan.

Kita hidup di zaman ketika banyak hal dapat dilakukan dengan sangat mudah.

Kita bisa membeli sesuatu hanya dengan beberapa ketukan di layar. Kita bisa mencari hiburan kapan saja. Kita bisa mengatakan sesuatu kepada orang lain tanpa harus bertemu. Bahkan kemarahan pun bisa kita tumpahkan dalam hitungan detik.

Kemampuan manusia semakin besar.

Tetapi apakah kemampuan kita untuk menahan diri juga ikut membesar?

Ramadhan memberi kita ruang untuk melatihnya.

Dengan begitu banyaknya nilai yang terkandung dalam puasa, kita akhirnya bisa memahami mengapa Ramadhan menjadi bulan yang begitu istimewa.

Di dalam Ramadhan, kita belajar menata makan, minum, waktu, ucapan, keinginan, perilaku, bahkan hubungan kita dengan Tuhan.

Ramadhan seperti sebuah ruang latihan.

Tetapi latihan tentu tidak dibuat agar kita menjadi kuat hanya selama berada di tempat latihan.

Apakah nilai-nilai Ramadhan bisa kita bawa ke bulan-bulan lainnya?

Sangat bisa.

Apakah kita bisa berpuasa di luar bulan Ramadhan?

Tentu bisa, kecuali pada hari-hari tertentu yang memang dilarang untuk berpuasa.

Lantas, mengapa tidak membawa nilai-nilai puasa ke dalam kehidupan sehari-hari?

Bukan berarti kita harus terus-menerus menahan makan dan minum.

Bukan itu maksudnya.

Yang kita bawa adalah nilai di balik puasanya.

Kita belajar menahan keinginan meskipun kita mampu memenuhinya.

Kita belajar berhenti meskipun sebenarnya kita masih bisa terus berjalan.

Kita belajar mengatakan cukup meskipun sebenarnya masih bisa mengambil lebih banyak.

Kita belajar menjaga ucapan meskipun kita bisa mengatakan apa saja.

Kita belajar menahan amarah meskipun kita memiliki alasan untuk marah.

Kita belajar memilih, bukan sekadar bereaksi.

Itulah yang kunamakan denganme-Ramadhan-kan diri.

Ramadhan tidak lagi hanya menjadi sebuah bulan yang kita datangi setahun sekali.

Ramadhan menjadi sebuah nilai yang kita bawa ke dalam kehidupan.

Kita membawa kedisiplinannya.

Kita membawa kemampuan menahannya.

Kita membawa kesadarannya tentang batas.

Kita membawa kebiasaannya untuk menata diri.

Kita membawa hubungannya dengan Tuhan.

Dan ketika nilai-nilai itu berhasil kita bawa ke bulan Syawal, Dzulqa'dah, Dzulhijjah, Muharram, Rajab, Sya'ban, dan bulan-bulan lainnya, maka sesungguhnya kita sedang berusaha menjadikan seluruh waktu sebagai ruang untuk memperbaiki diri.

Maka, me-Ramadhan-kan diri bukan berarti menjadikan semua bulan sebagai Ramadhan secara hukum.

Bukan.

Ramadhan tetap Ramadhan.

Yang kita bawa keluar darinya adalah nilai-nilai yang dilatih selama Ramadhan.

Sebab mungkin tujuan terbesar dari sebuah latihan bukanlah agar kita terus berada di tempat latihan.

Tujuannya adalah agar apa yang kita pelajari di sana menjadi bagian dari cara kita menjalani kehidupan.

Dan ketika kita mampu membawa nilai-nilai Ramadhan ke setiap bulan, setiap minggu, setiap hari, bahkan ke setiap keputusan kecil yang kita ambil, pada saat itulah kita sedang berusaha menyucikan diri terus-menerus.

Ramadhan datang setahun sekali.

Tetapi semangat Ramadhan tidak harus pergi setelah Idul Fitri.

Kita bisa me-Ramadhan-kan diri.

Dan dengan begitu, barangkali kita tidak hanya menjalani Ramadhan setahun sekali.

Kita sedang belajarber-Ramadhan setiap hari.

Catatan Rakan