Kadang-kadang yang membuat seseorang merasa berkuasa bukanlah kekuatannya, melainkan keyakinannya bahwa orang lain berada di bawahnya.
Kadang-kadang yang membuat seseorang merasa berkuasa bukanlah kekuatannya, melainkan keyakinannya bahwa orang lain berada di bawahnya.
Pernah saya membaca dalam sebuah surat kabar tentang seorang dokter di sebuah rumah sakit TNI yang enggan membayar parkir sebesar Rp5.000. Alasannya, TNI dan polisi tidak perlu membayar parkir.
Belakangan diketahui bahwa dokter tersebut bukan dokter angkatan, melainkan dokter sipil. Mobil yang digunakannya pun milik istrinya, yang juga dokter sipil. Namun ia tetap menolak membayar parkir hanya karena mobil tersebut menggunakan pelat nomor TNI.
Awalnya, sopir dokter tersebut sudah bersedia membayar parkir. Persoalan seharusnya selesai di situ.
Namun entah apa yang terjadi, setelah mobil maju beberapa meter, sang dokter kembali menghampiri juru parkir. Ia menamparnya. Tidak berhenti sampai di situ, ia mengeluarkan pistol dan menembakkannya ke langit-langit gedung.
Juru parkir itu ketakutan dan bersimpuh di hadapannya.
Bahkan, menurut kisah yang saya baca tersebut, sang dokter masih menyuruh juru parkir itu mencium kakinya. Dalam keadaan tertekan, juru parkir tersebut terpaksa mengikuti kemauannya.
Entah apa yang sebenarnya terjadi dalam diri seseorang sampai sebuah urusan parkir senilai Rp5.000 dapat berubah menjadi pertunjukan kekuasaan seperti itu.
Lain kisah.
Saya pernah bekerja di sebuah klinik. Suatu malam ketika saya sedang piket, saya mendapat cerita dari seorang tukang warung kopi bahwa dokter umum yang sore harinya praktik di klinik tempat saya bekerja terlibat keributan dengan seorang warga yang sedang mengantre di ATM.
Alasannya terdengar sepele.
Warga tersebut hanya melihat sang dokter ketika ia baru turun dari mobil.
Sebenarnya, kita semua pernah memperhatikan orang lain dari kepala sampai ujung kaki. Begitu pula kita pasti pernah mengalami diperhatikan orang lain dari ujung kepala sampai ujung kaki.
Kalau pakaian kita tidak biasa, mungkin perhatian orang lain terasa lebih kentara. Sedikit risih, mungkin. Tetapi biasanya kita biarkan saja.
Dokter tersebut rupanya tidak demikian.
Ia menghampiri orang yang melihatnya.
“Bapak kenapa lihat-lihat saya? Ada masalah apa?”
Silakan bayangkan sendiri bagaimana kelanjutannya.
Kadang-kadang yang kita sebut keberanian sebenarnya hanya keberanian yang dipinjam dari posisi.
Dari berbagai kisah semacam itu, saya mulai melihat sebuah pola.
Ada orang yang merasa dirinya lebih tinggi karena jabatan.
Ada yang merasa lebih kuat karena pangkat.
Ada yang merasa lebih terhormat karena gelar.
Ada pula yang merasa berkuasa karena memiliki banyak pengikut.
Ketika bertemu orang yang dianggap berada di bawahnya, mereka merasa bisa bersikap sesuka hati.
Mereka merasa harus dihormati. Mereka merasa orang lain harus mengalah. Mereka merasa atribut yang melekat pada dirinya memberi hak istimewa.
Seorang dokter mungkin merasa memiliki kedudukan lebih tinggi daripada juru parkir.
Seorang pejabat mungkin merasa kedudukannya membuatnya tidak layak ditegur.
Seorang anggota aparat mungkin merasa statusnya membuat orang lain berpikir dua kali untuk melawannya.
Sekelompok pengendara mungkin merasa memiliki kekuatan karena mereka sedang berkendara bersama-sama.
Begitu pula sebuah kelompok atau organisasi dapat merasa memiliki kekuatan ketika jumlah anggotanya membuat orang lain takut.
Tentu saja, saya tidak sedang mengatakan bahwa semua dokter, pejabat, anggota TNI, anggota polisi, klub motor, atau organisasi masyarakat seperti itu.
Tidak.
Saya sedang membicarakan sebuah sifat manusia yang bisa muncul di mana saja.
Sifat ketika seseorang merasa dirinya lebih tinggi daripada orang lain.
Kalau seseorang berani karena memiliki jabatan, apakah keberanian itu tetap ada ketika jabatannya dilepas?
Kalau seseorang berani karena memiliki pangkat, bagaimana ketika ia berdiri sendirian tanpa atribut?
Kalau seseorang berani karena memiliki banyak teman, apakah ia masih akan melakukan hal yang sama ketika sendirian?
Kalau seseorang berani karena merasa orang lain lebih miskin, lebih lemah, atau lebih rendah pendidikannya, apakah ia akan tetap bersikap demikian ketika berhadapan dengan orang yang kedudukannya jauh lebih tinggi?
Di sinilah saya merasa ada sesuatu yang menarik.
Kadang-kadang yang kita sebut keberanian sebenarnya hanya keberanian yang dipinjam dari posisi.
Bukan keberanian yang berasal dari karakter.
Kemudian saya bercermin
Tetapi semakin lama saya memikirkannya, semakin saya sadar bahwa persoalan ini tidak boleh berhenti pada cerita tentang orang lain.
Sebab sifat seperti itu ternyata tidak selalu hadir dalam bentuk yang dramatis.
Tidak harus berupa tamparan.
Tidak harus berupa pistol.
Tidak harus berupa bentakan di tengah jalan.
Kadang-kadang bentuknya jauh lebih kecil.
Dan justru karena kecil, kita tidak menyadarinya.
Saya sendiri pernah mengalaminya.
Saya pernah bekerja di sebuah puskesmas, tepatnya di bagian pelayanan obat.
Puskesmas tempat saya bekerja sudah bekerja sama dengan BPJS. Pasien yang memiliki BPJS tidak perlu membayar ketika berobat, sedangkan pasien yang belum memiliki BPJS harus membayar sesuai ketentuan yang berlaku.
Dulu, saya memiliki cara pandang yang keliru terhadap pasien BPJS.
Secara tidak sadar, saya menganggap orang yang menggunakan BPJS sebagai orang yang kurang mampu dan kurang berpendidikan.
Sementara itu, saya merasa gaji saya lumayan.
Saya merasa berpendidikan.
Tanpa saya sadari, pikiran itu membuat saya menempatkan diri sedikit lebih tinggi daripada mereka.
Dampaknya muncul dalam cara saya melayani.
Saya menjadi lebih suka-suka terhadap pasien BPJS.
Ketika melayani mereka, intonasi suara saya bisa lebih tinggi. Saya berbicara cepat. Ketika pasien tidak memahami informasi penggunaan obat dan bertanya kembali, kadang saya menjawab dengan nada setengah marah.
“Itu kan sudah ditulis cara pakainya. Berapa kalinya!”
Kalimat seperti itu mungkin hanya membutuhkan beberapa detik untuk diucapkan.
Tetapi bagi orang yang sedang sakit, bingung, dan sedang berusaha memahami obatnya, kalimat tersebut bisa terasa sangat berbeda.
Pasien mungkin akhirnya pulang dengan informasi yang masih samar.
Mau bertanya lagi, takut dimarahi.
Mungkin di dalam kepala saya saat itu ada kalimat yang lebih buruk lagi:
“Sudah gratis, banyak mintanya.”
Sekarang ketika mengingatnya, saya merasa tidak nyaman.
Sebab ternyata saya sedang melakukan hal yang sama dalam bentuk yang jauh lebih kecil.
Saya sedang menggunakan posisi saya untuk merasa lebih tinggi daripada orang lain.
Bedanya, saya tidak membawa pistol.
Saya hanya membawa jas dan pengetahuan tentang obat.
Tetapi mekanismenya bisa serupa.
Saya merasa memiliki sesuatu yang membuat posisi saya lebih tinggi, lalu saya menggunakan posisi tersebut untuk memperlakukan orang lain dengan lebih buruk.
Sampai suatu malam, saya mendapat pelajaran yang cukup telak.
Seorang pasien datang bersama suaminya.
Pasien tersebut adalah seorang perempuan dengan diagnosis hipertensi.
Malam itu suaminya mempersoalkan intonasi saya.
Kemudian istrinya ikut menyampaikan keberatan.
Dua lawan satu.
Saya tidak sedang berada dalam posisi untuk membela diri.
Saya mengakui bahwa saya salah.
Tingkat keramahan saya malam itu memang buruk.
Maka saya memilih meminta maaf.
Berkali-kali.
Menariknya, malam itu saya baru merasakan sesuatu yang sebelumnya tidak saya sadari.
Tadinya saya merasa berani kepada pasien.
Tetapi ketika pasien tersebut berani menyampaikan keberatannya, saya justru menjadi down.
Saya yang tadinya berada dalam posisi lebih tinggi mendadak merasa kecil.
Di situ saya belajar sesuatu.
Barangkali beginilah rasanya ketika seseorang yang selama ini kita anggap berada di bawah kita ternyata berani berdiri sejajar.
Kalau saya hanya ramah kepada orang kaya, lalu kasar kepada orang miskin, berarti keramahan saya bukan karakter. Itu transaksi.
Sejak saat itu saya mencoba mengubah cara saya melihat pasien.
Pasien BPJS maupun pasien umum tetap manusia.
Miskin atau kaya, tetap manusia.
Berpendidikan tinggi atau tidak berpendidikan, tetap manusia.
Mereka datang bukan untuk menerima kebaikan hati saya.
Mereka datang untuk mendapatkan pelayanan.
Dan saya berada di sana untuk melayani.
Saya tidak seharusnya menentukan kadar keramahan berdasarkan status orang yang sedang berdiri di depan saya.
Kalau saya hanya ramah kepada orang kaya, lalu kasar kepada orang miskin, berarti keramahan saya bukan karakter.
Itu transaksi.
Saya ramah karena saya melihat keuntungan atau posisi orang tersebut.
Begitu pula dengan rasa hormat.
Kalau saya hanya menghormati orang yang memiliki jabatan, pangkat, atau kekuasaan, mungkin sebenarnya saya bukan orang yang menghormati manusia.
Saya hanya menghormati kekuasaan.
Tentang kesederhanaan dan kesabaran.
Saya teringat sebuah nasihat dari seorang teman:
“Sederhana adalah ketika punya banyak uang, tetapi tetap memilih apa adanya. Tidak bermewah-mewahan. Sabar adalah ketika kita mampu melawan, tetapi kita lebih memilih tidak melawan.”
Semakin saya pikirkan, semakin saya merasa nasihat tersebut berkaitan dengan banyak hal yang saya ceritakan di awal.
Mungkin ukuran seseorang bukan hanya tentang apa yang bisa ia lakukan.
Justru kadang-kadang ukuran seseorang terlihat dari apa yang sebenarnya bisa ia lakukan, tetapi memilih untuk tidak melakukannya.
Kita bisa membentak, tetapi memilih berbicara baik-baik.
Kita bisa mempermalukan orang lain, tetapi memilih menjaga martabatnya.
Kita bisa menggunakan jabatan untuk menekan, tetapi memilih bersikap biasa saja.
Kita bisa membalas ketika diperlakukan tidak baik, tetapi memilih menyelesaikan persoalan tanpa merendahkan.
Dan mungkin, kita bisa merasa lebih tinggi daripada orang lain, tetapi memilih mengingat bahwa pada akhirnya kita semua tetap manusia.
Saya tidak tahu bagaimana orang-orang dalam kisah di awal tulisan ini memandang dirinya sendiri.
Mungkin mereka memiliki alasan masing-masing.
Mungkin ada bagian cerita yang tidak saya ketahui.
Mungkin pula cerita yang saya baca atau dengar tidak sepenuhnya menggambarkan seluruh kejadian.
Karena itu, saya tidak ingin menjadikan kisah-kisah tersebut sebagai alasan untuk merasa lebih baik daripada mereka.
Sebab kalau setelah membaca kisah tentang kesombongan orang lain saya kemudian merasa,
“Untung saya tidak seperti mereka.”
Bisa jadi saya sedang jatuh ke lubang yang sama dengan bentuk yang berbeda.
Saya mungkin tidak menampar juru parkir.
Saya mungkin tidak mengeluarkan pistol.
Saya mungkin tidak menggunakan jabatan untuk meminta orang lain memberi jalan.
Tetapi saya bisa saja memandang rendah pasien karena ia menggunakan BPJS.
Saya bisa saja berbicara kasar kepada bawahan karena merasa posisi saya lebih tinggi.
Saya bisa saja tidak menghormati seseorang karena pendidikannya lebih rendah.
Saya bisa saja merasa lebih pintar hanya karena mengetahui sesuatu yang tidak diketahui orang lain.
Bentuknya berbeda.
Akarnya mungkin sama.
Mungkin sifat “kampungan” yang paling berbahaya bukan terletak pada pakaian, pendidikan, pekerjaan, atau asal-usul seseorang.
Ia muncul ketika seseorang merasa perlu membuat orang lain merasa kecil agar dirinya terlihat besar.
Dan mungkin kebalikannya juga benar.
Kedewasaan bukan selalu ketika kita memiliki kekuatan lebih besar.
Kadang-kadang kedewasaan justru terlihat ketika kita memiliki kekuatan untuk menekan, tetapi memilih tidak melakukannya.
Ketika kita bisa membalas, tetapi memilih menahan diri.
Ketika kita bisa menunjukkan siapa diri kita, tetapi tidak merasa perlu melakukannya.
Ketika kita bisa memperlakukan orang lain sesuka hati, tetapi tetap memilih memperlakukannya dengan baik.
Termasuk kepada orang yang tidak punya jabatan.
Tidak punya pangkat.
Tidak punya gelar.
Tidak punya uang.
Tidak punya kekuasaan.
Sebab mungkin di situlah ujian sebenarnya.
Bukan bagaimana kita memperlakukan orang yang kita anggap penting.
Tetapi bagaimana kita memperlakukan orang yang tidak bisa memberikan apa-apa kepada kita. ** Dan saya sendiri masih belajar tentang itu.**

