Edition 002 · kehidupan

Memaknai Ulang Keajaiban

Kebanyakan dari kita membayangkan sesuatu yang besar. Penyakit yang tiba-tiba sembuh. Orang yang selamat dari kecelakaan. Doa yang terasa mustahil lalu terkabul. Orang sering mengira itulah keajabian.

Kehidupan · K-001
Memaknai Ulang Keajaiban

Apa yang pertama kali terlintas ketika mendengar kata keajaiban?

Kebanyakan dari kita membayangkan sesuatu yang besar. Penyakit yang tiba-tiba sembuh. Orang yang selamat dari kecelakaan. Doa yang terasa mustahil lalu terkabul.

Barangkali karena kita baru menyebut sesuatu sebagai keajaiban ketika hidup sudah berada di tepi jurang.

Bayangkan seseorang menerima vonis dokter.

"Penyakitmu sudah sangat parah. Operasi justru akan memperburuk keadaan. Waktumu mungkin tinggal hitungan jam."

Dunia seketika runtuh. Pikiran menjadi bising. Tubuh gemetar. Air mata datang tanpa diminta.

"Kenapa?"

Pertanyaan itu dilemparkan ke langit.

Langit tetap diam.

Di titik seperti itu, hampir semua orang akan berharap pada satu hal: keajaiban.

Mungkin ingatan melayang pada kisah dua puluh abad silam, ketika Sang Mesias menyembuhkan orang buta dan penderita kusta. Hati berharap, andai saja mukjizat seperti itu kembali terjadi.

Lalu bayangkan cerita itu berlanjut.

Setelah segala upaya dilakukan, setelah harapan, ketakutan, kemarahan, dan penolakan perlahan luruh menjadi kepasrahan yang utuh, sesuatu yang tak terduga terjadi.

Penyakit itu menghilang.

Orang itu berseru, "Ini keajaiban."

Saya tidak akan menyangkalnya.

Tetapi ada satu pertanyaan yang lebih menarik.

Bagaimana jika keajaiban tidak hanya muncul setelah badai selesai?

Keajaiban yang jarang dihitung

Aneh rasanya.

Kita mudah mengingat satu momen ketika hidup terselamatkan, tetapi hampir tidak pernah menghitung ribuan momen ketika hidup berjalan baik-baik saja.

Hari ini jantung kita berdetak tanpa perlu diingatkan.

Paru-paru bekerja tanpa meminta upah.

Lambung mencerna makanan yang baru saja kita santap.

Bahkan ketika hidung sedang sedikit mampet, kita masih memiliki kemampuan untuk bernapas.

Semua itu begitu biasa.

Karena terlalu biasa, kita berhenti menyebutnya keajaiban.

Padahal, jika semua proses itu berhenti beberapa menit saja, hidup akan berubah total.

Mungkin masalahnya bukan karena keajaiban itu jarang terjadi.

Mungkin karena perhatian kita lebih terlatih mencari kekurangan daripada menyadari keberlangsungan.

Hakikat keajaiban

Saya mulai percaya bahwa keajaiban bukan hanya peristiwa penyelamatan setelah cobaan besar.

Keajaiban juga hadir dalam setiap kemudahan yang tidak didahului oleh kesulitan.

Segelas air yang tersedia ketika haus.

Tubuh yang masih mampu berjalan.

Seseorang yang mendengarkan tanpa menghakimi.

Kesempatan untuk memulai lagi setelah gagal.

Semakin sering saya menyadari hal-hal kecil itu, semakin sering hidup terasa menghadirkan kejutan yang tidak pernah saya rencanakan.

Bukan berarti hidup menjadi bebas masalah.

Melainkan cara memandang hidup yang berubah.

Dan mungkin di situlah letak esensi keajaiban.

Bukan semata-mata karena dunia berubah, tetapi karena kesadaran kita ikut berubah.

Barangkali, sebelum mencari mukjizat berikutnya, kita perlu berhenti sejenak dan bertanya:

Berapa banyak keajaiban yang sudah saya lewati hari ini, tanpa sempat saya beri nama?

Catatan dari saya

Tulisan seperti ini lahir dari kegelisahan yang kemudian saya renungkan lebih panjang dalam buku Tuhan, Wafatkan Saya di Usia 63 Tahun!. Di sana saya menulis tentang cara memandang waktu, kehidupan, dan makna dari hal-hal yang sering kita anggap biasa.

Abdul Rakan

Abdul Rakan

Apoteker & Praktisi Penyembuhan Holistik


Sebagian tulisan di situs ini lahir dari pertanyaan-pertanyaan sederhana yang pelan-pelan mengubah cara saya memahami tubuh, pikiran, dan kehidupan.

NODE K-001 · ARSIP K-001
Ruang Berikutnya

Jika tulisan belum cukup.

Kadang sebuah artikel membantu memahami sesuatu. Kadang kita membutuhkan ruang percakapan yang lebih tenang, atau membuka kemungkinan kolaborasi.