Kita tidak pernah tahu apa yang sedang diperjuangkan seseorang. Karena itu, jangan menjadikan pencapaian hidup kita sebagai ukuran untuk menentukan kapan orang lain harus lulus, menikah, punya anak, atau mencapai sesuatu. Jalan hidup kita mungkin berbeda. Tidak berarti salah satunya harus menjadi ukuran bagi yang lain.
Kisah Mahasiswa Abadi dan Garis Waktu yang Berbeda
Saya pernah punya teman yang karier akademiknya tidak bagus-bagus amat. Hampir tujuh tahun ia berkuliah, tetapi skripsinya tak kunjung rampung.
Ada juga teman saya yang lain. Boro-boro memikirkan skripsi, beberapa mata kuliah saja masih harus diulang. Menariknya, keadaan mereka di luar kampus justru cukup baik.
Keadaan finansial mereka bagus. Hubungan sosial mereka juga terbilang sukses. Mereka sudah sama-sama menikah. Bahkan salah satunya sebentar lagi akan menjadi ayah. Yang satu lagi, meskipun belum ada tanda-tanda akan segera punya anak, sudah pergi jalan-jalan ke luar negeri bersama istrinya.
Sementara itu, kehidupan saya waktu itu belum terlalu berwarna.
Perjuangan Mengejar Target Kelulusan Kuliah
Ketika memasuki tahun kelima dan menyadari bahwa saya belum juga lulus S1, saya mulai marathon mengejar ketertinggalan.
Boro-boro memikirkan menikah atau punya anak. Yang ada di kepala saya saat itu hanya satu: bagaimana caranya lulus?
Teman-teman saya satu per satu sudah memakai toga. Foto wisuda mereka mulai memenuhi media sosial. Sementara saya masih berkutat dengan penelitian, nilai yang belum beres, laporan, dan dosen pembimbing.
Dengan sisa-sisa tenaga yang ada, saya lanjutkan penelitian yang sempat tertunda. Saya benahi nilai-nilai yang masih rendah. Saya kejar dosen pembimbing ke mana pun ia pergi. Akhirnya usaha itu membuahkan hasil.
Saya bisa mengikuti wisuda tepat di tahun kelima kuliah. Tidak apa-apa. Cuma terlambat setahun. Di tengah teman-teman saya yang lain, ada yang terlambat sampai tiga tahun. Beruntung waktu itu saya banyak mengacu kepada teman-teman yang lulus empat tahun. Mereka seperti memberi saya semacam cambuk. Kalau mereka bisa selesai empat tahun, saya pun harus segera menyelesaikan kuliah.
Saya tidak tahu bagaimana akhir cerita kuliah saya kalau waktu itu saya lebih banyak melihat teman-teman yang memilih menikah lebih dahulu daripada menuntaskan pendidikan.
Memasuki Fase Melelahkan di Pendidikan Profesi Apoteker
Setelah S1 selesai, saya sempat menunda sekitar enam bulan sebelum melanjutkan ke pendidikan profesi apoteker. Pendidikan profesi ini berlangsung dua semester. Semester pertama lebih banyak berisi teori dan pembelajaran di kelas. Semester kedua diisi dengan Praktek Kerja Profesi Apoteker atau PKPA.
Di tahap inilah saya kembali masuk ke fase yang cukup melelahkan: praktik, laporan, bimbingan, revisi, dan tentu saja menjadi penghamba tanda tangan.
Sedari S1 saya sudah memutuskan untuk mengambil jalur farmasi klinis. Maka pada pendidikan profesi, saya menjalani PKPA di apotek, rumah sakit, dan pemerintahan. Semuanya saya tuntaskan.
Seminggu lagi saya akan dilantik menjadi seorang apoteker. Di saat saya sudah melewati masa-masa berat mengikuti perkuliahan, praktik kerja, menyusun laporan, menemui pembimbing, menghadapi revisi berulang kali, dan mengejar tanda tangan ke sana kemari, teman-teman yang saya ceritakan di awal tadi belum juga menunjukkan tanda-tanda hendak menyelesaikan skripsi mereka.
Nampaknya mereka masih betah dengan status mahasiswa abadi.
Mapala: Mahasiswa Paling Lama. (Setidaknya, begitulah candaan saya waktu itu).
> “Dul, kapan nikah?”
Ketika Pertanyaan "Kapan Nikah" Mengubah Sudut Pandang
Sampai suatu hari saya membuat status di Facebook. Salah seorang teman yang saya ceritakan tadi berkomentar. Jleb. Pertanyaan itu sederhana. Hanya dua kata. Tetapi entah kenapa, cukup untuk membuat saya terdiam. Iya juga.
Saya memang sudah menuntaskan kuliah. Bahkan bukan hanya S1. Pendidikan profesi apoteker pun sebentar lagi selesai.
Ijazah S1 sudah di tangan.
Ijazah apoteker akan segera menyusul.
Soft file berbagai dokumen pun sudah saya scan dan amankan di Google Drive.
Tetapi ketika membaca pertanyaan itu, saya tiba-tiba sadar bahwa lulus kuliah ternyata tidak otomatis membuat seluruh persoalan hidup ikut selesai.
Saya belum menikah.
Dan yang lebih membuat bingung, saya belum tahu akan menikah dengan siapa.
Panik itu hanya berlangsung sebentar.
Setelahnya saya berpikir, setidaknya ada satu hal yang patut saya syukuri.
Saya sudah lulus.
Sementara teman yang bertanya kepada saya tadi masih berjuang dengan skripsinya.
Tentu saja, saat itu ada sedikit rasa lega.
Namun semakin saya pikirkan, saya sadar bahwa kehidupan bukan perlombaan yang hadiahnya diberikan kepada orang yang paling cepat menyelesaikan semua tahap.
Teman saya sudah menikah.
Saya sudah lulus.
Ia mungkin lebih dulu membangun keluarga.
Saya mungkin lebih dulu menyelesaikan pendidikan.
Lalu siapa yang menang?
Tidak ada.
Karena memang tidak ada perlombaannya.
Dampak Psikologis dari Tekanan Sosial "Kapan Lulus?"
Saya kemudian teringat bagaimana rasanya ketika dulu ditanya: “Kapan lulus?”
Pertanyaan itu terdengar sederhana bagi orang yang mengucapkannya. Tetapi bagi mahasiswa yang sedang berjuang menyelesaikan kuliah, pertanyaan itu kadang terasa cukup berat.
Mereka hanya melihat satu hal: saya belum lulus.
Mereka tidak melihat janji dengan dosen pembimbing.
Mereka tidak melihat penelitian yang tertunda.
Mereka tidak melihat revisi yang berkali-kali.
Mereka tidak melihat malam-malam ketika harus begadang.
Mereka tidak melihat usaha mengejar tanda tangan.
Mereka tidak melihat berapa kali seseorang mencoba bangkit setelah mendapatkan revisi lagi.
Yang mereka tahu hanya satu: “Belum lulus.”
Maka ketika seseorang bertanya kepada saya, “Kapan nikah?”, saya tidak sampai hati membalasnya dengan pertanyaan: “Kapan lulus?”
Bukan karena saya tidak bisa.
Justru karena saya tahu persis rasanya.
Saya tahu bahwa mereka sendiri pasti sudah tahu bahwa mereka belum lulus.
Mereka juga tahu bahwa skripsinya belum selesai. Mereka juga tahu bahwa beberapa mata kuliahnya masih harus diulang.
Mereka tidak membutuhkan saya untuk reminding sesuatu yang setiap hari mungkin sudah mereka pikirkan sendiri. Kalau memang mereka ingin segera lulus, tentu mereka akan berusaha.
Kalau mereka memilih menundanya, mungkin ada alasan lain yang tidak saya ketahui.
Dan saya tidak selalu berhak mengetahui alasan itu.
Menghargai Standar Kesiapan Hidup Setiap Orang
Hal yang sama berlaku untuk pertanyaan: “Kapan nikah?” Menikah bukan seperti makan siang yang bisa dijawab dengan, “Besok.” Atau: “Lusa.”
Pernikahan membutuhkan banyak hal. Ada kesiapan mental, pasangan, keadaan finansial, perencanaan, tanggung jawab, dan berbagai pertimbangan lain yang tidak selalu terlihat dari luar.
Bahkan orang yang sudah menentukan tanggal pernikahan pun masih mungkin mengubah rencana. Maju. Mundur. Bahkan batal.
Maka pertanyaan “kapan?” dalam urusan seperti ini tidak sesederhana yang kita bayangkan.
Kita sering mengira sedang basa-basi.
Padahal bagi orang yang ditanya, bisa jadi pertanyaan itu menyentuh bagian kehidupan yang sedang mereka perjuangkan.
Kesimpulan: Berhenti Menjadikan Pencapaian Pribadi Sebagai Ukuran
Saya menulis ini bukan untuk mengatakan bahwa bertanya “kapan lulus?” atau “kapan nikah?” selalu salah.
Bukan begitu.
Kadang pertanyaan itu lahir dari perhatian.
Kadang memang hanya basa-basi.
Tetapi ada baiknya kita belajar memahami bahwa tidak semua hal dalam hidup orang lain perlu kita tanyakan waktunya.
Setiap orang memiliki jalan dan garis waktu (timeline) yang berbeda.
Ada orang yang ingin cepat lulus kemudian menikah.
Ada yang ingin menikah lebih dahulu.
Ada yang ingin membangun karier.
Ada yang sedang membesarkan bisnis.
Ada yang sedang berusaha menyelesaikan persoalan keluarga.
Ada pula yang mungkin sedang berjuang dengan sesuatu yang sama sekali tidak kita ketahui.
Maka pilihan seseorang untuk cepat menikah bukan berarti orang lain harus segera menikah.
Pilihan seseorang untuk cepat lulus bukan berarti orang lain harus mengikuti jadwal yang sama.
Begitu pula orang yang memilih menunda lulus atau menunda menikah tidak otomatis sedang menjalani kehidupan yang salah.
Bisa jadi mereka sedang mengejar sesuatu yang menurut mereka penting pada fase hidupnya sekarang.
Kita tidak tahu.
Dan tidak apa-apa.
Memang bukan tugas kita untuk mengetahui semuanya.
Mungkin saya juga perlu belajar satu hal lagi.
Jangan menjadikan pencapaian pribadi sebagai ukuran untuk menilai kehidupan orang lain.
Dulu saya bangga karena akhirnya berhasil lulus.
Kemudian ketika ada orang yang belum lulus, saya bisa saja berpikir bahwa saya sudah berada satu langkah di depan mereka.
...Tetapi beberapa saat kemudian saya justru ditanya: “Kapan nikah?”
Ternyata kehidupan punya cara yang cukup lucu untuk mengingatkan kita.
Hari ini kita merasa unggul dalam satu hal.
Besok kita bisa saja merasa tertinggal dalam hal lain.
Karena itu, rasanya tidak perlu terlalu sibuk menghitung siapa yang lebih cepat.
Kita cukup menjalani bagian kita.
Dalam tulisan ini saya ingin mengajak kita untuk saling menghargai pilihan.
Saling mengerti situasi.
Saling memahami keadaan.
Mari mulai menghindari pertanyaan-pertanyaan yang mungkin bagi kita terdengar sepele, tetapi bagi orang lain bisa terasa menusuk.
Tidak perlu terlalu usil terhadap kehidupan orang.
No trespassing.
Jangan masuk terlalu jauh ke wilayah yang bukan milik kita.
Biarkan orang menentukan kapan ia ingin lulus.
Biarkan orang menentukan kapan ia ingin menikah.
Biarkan orang menentukan kapan ia ingin punya anak.
Biarkan pula seseorang menentukan apa yang ingin ia kejar terlebih dahulu.
Karena yang menjalani hidup itu mereka.
Bukan saya.
Bukan kita.
Dan pada akhirnya, yang paling tahu jalan terbaik bagi kehidupan seseorang adalah orang yang menjalaninya sendiri.
Bukan saya. Bukan kita. Mereka sendiri.

