Tubuh bukan kumpulan bagian yang terpisah.
Kita sering membicarakan tubuh seolah-olah ia adalah kumpulan bagian yang berdiri sendiri. Jantung untuk memompa darah. Paru-paru untuk bernapas. Lambung untuk mencerna makanan.
Padahal tubuh bekerja sebagai sebuah jaringan yang saling berhubungan. Perubahan pada satu bagian dapat memengaruhi bagian lainnya.
Pikiran juga ikut masuk ke dalam tubuh.
Apa yang kita pikirkan dan rasakan tidak berhenti sebagai sesuatu yang abstrak di dalam kepala. Stres, rasa takut, kegembiraan, kehilangan, dan tekanan kehidupan dapat berjalan bersama perubahan pada tubuh.
Karena itu, memahami kesehatan manusia membutuhkan lebih dari sekadar melihat satu organ atau satu gejala.
Kebiasaan kecil ikut membentuk kesehatan.
Cara kita makan, tidur, bergerak, bekerja, beristirahat, dan berinteraksi dengan orang lain berlangsung berulang kali.
Sesuatu yang dilakukan sekali mungkin terlihat kecil. Tetapi sesuatu yang dilakukan terus-menerus dapat menjadi bagian dari kehidupan tubuh.
Lingkungan juga menjadi bagian dari tubuh.
Manusia tidak hidup di ruang kosong. Udara yang dihirup, makanan yang tersedia, kondisi tempat tinggal, pekerjaan, hubungan sosial, dan lingkungan kehidupan semuanya dapat berhubungan dengan kesehatan.
Melihat manusia sebagai satu kesatuan.
Pendekatan yang lebih utuh tidak berarti mengabaikan ilmu kedokteran atau farmasi. Justru sebaliknya, ia mengajak kita memahami kapan sebuah masalah membutuhkan pemeriksaan medis, kapan kebiasaan perlu diperbaiki, dan kapan manusia membutuhkan dukungan dari orang lain.
Manusia bukan sekadar diagnosis. Ia memiliki tubuh, pikiran, emosi, kebiasaan, lingkungan, hubungan, dan kehidupan yang saling bertemu.
Tubuh tidak pernah bekerja sendirian.
Begitu pula manusia.