Kehidupan

Saya Memilih Pergi, dan Itu Tidak Selalu Berarti Takut

Keberanian tidak selalu berarti melawan. Kadang ia berarti memilih jalan yang membuat kita tetap utuh.

Catatan Rakan Kehidupan 8 menit membaca
Ilustrasi jalan senja dan motor yang melambangkan refleksi tentang keberanian.
Ada benturan yang hanya menggeser motor beberapa meter. Ada benturan lain yang diam-diam menggeser cara kita memandang diri sendiri.

Benturan itu berlangsung beberapa detik. Dampaknya baru saya pahami bertahun-tahun kemudian.

Saya pernah mengira keberanian selalu berbentuk orang yang maju, membalas, lalu memenangkan pertengkaran. Sampai suatu sore, sepulang Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA), sebuah motor menabrak saya dari belakang.

Anehnya, yang paling membekas bukan benturannya, melainkan keputusan yang saya ambil beberapa detik setelahnya: saya memilih pergi.

Benturan yang Tidak Meninggalkan Lecet

Benturannya cukup keras hingga motor saya terdorong ke depan. Refleks saya menoleh ke belakang.

Dua bapak-bapak sedang berboncengan. Saya menunggu isyarat kecil, anggukan canggung, atau ucapan, “Maaf, Mas.”

Tidak ada.

Yang saya tangkap justru tatapan yang, entah benar atau hanya tafsir saya saat itu, seolah berkata, “Iya, saya nabrak. Terus kenapa?”

Dada saya langsung panas. Yang terasa terluka bukan lagi motor saya. Yang terasa terluka adalah ego.

Lalu saya melihat postur mereka yang jauh lebih besar daripada saya. Tubuh saya langsung menghitung kemungkinan.

“Kalau saya turun, apa yang akan terjadi?”

Hitung-hitungan itu selesai dalam hitungan detik. Saya menarik gas.

Sepanjang perjalanan pulang saya tetap kesal. Rasanya seperti membawa pulang pertengkaran yang tidak pernah benar-benar terjadi.

Hidup Bersama Tubuh yang Selalu Kurus

Barangkali keputusan itu tidak bisa dilepaskan dari satu kenyataan sederhana.

Saya kurus. Dan pendek.

Untuk urusan tinggi badan, saya sudah lama berdamai. Yang lebih sulit saya terima justru tubuh saya yang selalu tampak kurus.

Saat kuliah, banyak teman seangkatan sama-sama kurus. Rasanya aman. Saya tidak sendirian.

Lalu kami lulus. Beberapa tahun kemudian, ketika reuni atau buka bersama datang, kalimat yang paling sering saya dengar adalah:

“Dul, masih aja kurusan?”

Mereka mungkin mengucapkannya sebagai basa-basi. Namun anehnya, kalimat itu selalu terasa lebih tajam daripada yang terlihat.

Di kepala saya, pertanyaan itu berubah menjadi suara-suara lain: “Hidupmu berat, ya?” “Kurang makan?” “Kurang gizi?”

Barangkali semua itu hanya tafsir saya sendiri. Namun rasa perihnya tetap nyata.

Saya baru sadar bahwa komentar yang berulang bisa perlahan berubah menjadi cara kita memandang diri sendiri.

Kadang yang paling melelahkan bukan tubuh yang kurus, melainkan cerita yang kita bangun tentang tubuh itu.

Berhenti Memaksa Tubuh Menjadi Orang Lain

Saya makan banyak. Tetap kurus. Saya rajin nge-gym. Tetap kurus. Saya mencoba yoga. Masih kurus. Saya bahkan pernah mencoba Herbalife. Hasilnya tetap sama.

Lama-kelamaan saya lelah mengejar tubuh yang rasanya selalu berlari ke arah berlawanan.

Ada satu titik ketika saya berhenti bertanya, “Bagaimana caranya berubah?”

Lalu muncul pertanyaan yang jauh lebih berguna:“Kalau bukan tubuh yang bisa saya andalkan, apa yang bisa saya bangun?”

Pertanyaan itu pelan-pelan mengubah hidup saya.

Ketika Akal Menjadi Tempat Berlatih

Saya mulai membaca semakin banyak. Di buku-buku sejarah saya menemukan tokoh-tokoh besar yang ternyata tidak semuanya bertubuh menjulang.

Saya sempat berpikir, “Kalau mereka bisa, masa saya tidak?”

Lalu saya tertawa sendiri. Menghadapi pengendara motor saja saya sudah gemetar.

Dari situ saya mulai bertanya: apa setiap orang yang mundur otomatis pengecut?

Bukankah ada bedanya antara sadar kemampuan dan sengaja mencari celaka?

Yang saya tahu, saya punya prinsip sederhana: kalau sesuatu tidak sanggup saya tangani, saya akan mencari jalan lain.

Karena mempertahankan ego sampai menghancurkan diri sendiri bukanlah kemenangan.

Kalau seseorang memilih pergi karena tahu pertarungan itu tidak akan menyelesaikan apa-apa, apakah itu benar-benar berarti takut?

Kemenangan yang Tidak Berbunyi

Semakin banyak membaca, semakin sering saya menemukan bahwa konflik besar dalam sejarah sering kali berakhir bukan ketika orang terakhir dipukul, melainkan ketika orang pertama bersedia duduk di meja perundingan.

Komunikasi. Dialog. Diplomasi. Negosiasi.

Kata-kata itu terdengar sederhana. Padahal semuanya membutuhkan latihan.

Berbicara baik bukan sekadar pandai mengeluarkan kata-kata. Ia membutuhkan pengetahuan, kemampuan mendengar, dan kesanggupan menahan ego ketika emosi sedang ingin menang.

Tubuh Kuat, Kepala Tenang

Belakangan saya juga menyadari ada orang-orang yang sangat kuat secara fisik sekaligus sangat tenang menghadapi konflik.

Mereka tidak menggunakan kemampuan bela dirinya untuk mendominasi orang lain.

Justru karena mereka mampu, mereka tidak perlu membuktikan apa-apa.

Kekuatan terbaik mungkin bukan kemampuan memukul paling keras, melainkan kemampuan menahan diri ketika sebenarnya mampu membalas.

Wing Chun, atau Cara Lain Memahami Keberanian

Sampai hari ini saya masih ingin belajar Wing Chun. Alasannya bukan agar berani mencari ribut.

Saya justru tertarik pada filosofi di baliknya.

Donnie Yen dalam film Ip Man sering kali berusaha menyelesaikan persoalan lewat percakapan sebelum pertarungan menjadi pilihan terakhir.

Entah seberapa ideal gambaran itu dibanding dunia nyata, ada satu pelajaran yang saya suka: bela diri terbaik bukanlah alasan untuk menyerang, melainkan kemampuan menjaga diri tanpa kehilangan kepala dingin.

Barangkali kalau suatu hari saya benar-benar ikut kelas Wing Chun, yang sedang saya latih bukan hanya tangan, melainkan juga cara tubuh dan pikiran bergerak bersama.

Karena sekarang saya mulai percaya bahwa kesehatan tidak hanya berarti tubuh yang kuat.

Ada harga diri yang perlu dipulihkan. Ada cara berpikir yang perlu dirawat. Ada kemampuan berkomunikasi yang perlu dilatih.

Kadang luka terbesar tidak meninggalkan lecet di motor. Ia tinggal diam di dalam kepala, lalu bertahun-tahun memengaruhi cara kita mengambil keputusan.

Dan mungkin, di situlah perjalanan memahami diri sebenarnya dimulai.

Saya pulang hari itu tanpa memenangkan pertengkaran. Tetapi mungkin, untuk pertama kalinya, saya mulai memenangkan cara saya memandang diri sendiri.
Catatan RAKAN

Penyembuhan sering dimulai bukan ketika konflik selesai, melainkan ketika kita memahami respons kita terhadap konflik itu sendiri. Tubuh menyimpan ketegangan, pikiran menyimpan cerita, dan keduanya perlu diajak pulang dengan lembut.

Lanjutkan Perjalanan

Sebagian tulisan di RAKAN.MY.ID lahir dari pengalaman sehari-hari yang pelan-pelan mengubah cara saya memahami tubuh, pikiran, dan kehidupan.

Jika tulisan ini terasa dekat, mungkin Anda ingin melanjutkan perjalanan melalui tulisan lain, membaca buku-buku yang sedang saya tulis, atau membuka ruang kolaborasi.

Barangkali keberanian bukan soal siapa yang paling keras memukul, melainkan siapa yang tetap utuh setelah memilih jalan pulang.

Abdul Rakan Apoteker & Praktisi Penyembuhan Holistik
Arsip RAKAN K-001