Kehidupan

Ketika Kekerasan Menjadi Syarat Masuk Komunitas

Beberapa pengalaman di ruang IGD membuat saya kembali bertanya: bagaimana kebutuhan diterima dalam sebuah kelompok bisa berubah menjadi alasan untuk melukai orang yang sama sekali tidak bersalah?

Catatan Rakan Kehidupan 6 menit membaca
Ketika Kekerasan Menjadi Syarat Masuk Komunitas
Kadang luka paling sulit disembuhkan bukan berasal dari penyakit, melainkan dari cara manusia membentuk identitasnya.

Luka yang Sulit Dilupakan

Beberapa minggu terakhir saya melihat terlalu banyak pasien masuk IGD dengan kondisi yang sulit dilupakan. Tubuh penuh luka. Kepala pecah. Tulang patah. Sebagian masih bisa diselamatkan. Sebagian lainnya tidak.

Di sebuah warung kopi, saya berbincang dengan seorang perawat. Ia bercerita tentang pola yang mulai berulang. Korban-korban itu, katanya, banyak yang diserang secara acak.

Ada yang sedang menyeberang jalan, lalu dibacok. Ada yang sedang berjualan kopi, lalu ditusuk.

Kadang luka paling sulit disembuhkan bukan berasal dari penyakit, melainkan dari cara manusia memperlakukan manusia lain.

Ketika Kekerasan Menjadi Ritual

Saya bertanya, “Kenapa orang yang sama sekali tidak bersalah bisa menjadi sasaran?”

Jawabannya membuat saya terdiam.

Katanya, pelaku-pelaku itu adalah anggota baru sebuah geng motor. Kekerasan dilakukan sebagai prasyarat agar dianggap layak menjadi bagian dari kelompok.

Saya mengenali nama komunitas itu. Jujur saja, saya sempat mengira mereka sudah berubah. Di media sosial mereka ada foto-foto bakti sosial, santunan panti asuhan, buka bersama, sampai kajian rutin. Sebagian anggotanya bahkan sudah meninggalkan kehidupan lama.

Ternyata kenyataan di lapangan tidak sesederhana foto.

Bagaimana mungkin kebutuhan untuk diterima berubah menjadi kebutuhan untuk melukai?

Yang Hilang Bukan Keberanian

Yang membuat saya berpikir bukan hanya soal geng motor. Yang membuat saya berpikir adalah betapa anehnya manusia bisa mengubah kekerasan menjadi ritual penerimaan. Seolah-olah harga sebuah pertemanan harus dibayar dengan darah orang lain.

Ironisnya, hampir semua pelaku juga pernah menjadi anak yang dicintai seseorang. Pernah dipeluk ibunya. Pernah ditunggu ayahnya pulang. Entah di titik mana kebutuhan untuk diterima berubah menjadi kebutuhan untuk melukai.

Saya tidak tahu apakah tulisan ini akan sampai kepada mereka. Kalau pun sampai, saya hanya ingin meninggalkan satu pertanyaan.

Sebelum mengayunkan senjata kepada orang asing, pernahkah terpikir bagaimana jika orang yang tergeletak itu adalah ibu sendiri? Ayah sendiri? Istri sendiri? Anak sendiri?

Kadang yang hilang bukan keberanian. Kadang yang hilang adalah kemampuan membayangkan bahwa orang lain juga memiliki rumah untuk pulang.

Catatan RAKAN

Saya sering menulis tentang kesehatan sebagai apoteker. Namun semakin lama mendampingi manusia, saya belajar bahwa luka paling sulit disembuhkan tidak selalu berasal dari penyakit. Ada luka yang lahir dari cara kita membentuk identitas, memilih lingkungan, dan kehilangan rasa kemanusiaan.

Lanjutkan Perjalanan

Sebagian tulisan di RAKAN.MY.ID lahir dari pengalaman sehari-hari yang pelan-pelan mengubah cara saya memahami tubuh, pikiran, dan kehidupan.

Jika tulisan ini terasa dekat, mungkin Anda ingin melanjutkan perjalanan melalui tulisan lain, membaca buku yang sedang saya tulis, atau membuka ruang kolaborasi dan pendampingan.

Kadang yang perlu disembuhkan bukan hanya luka di tubuh, tetapi cara kita memandang manusia lain.

Abdul Rakan Apoteker & Praktisi Penyembuhan Holistik
Arsip RAKAN K-001